fbpx
Home / Berita / Dosen Psikologi Islam IAIN Pontianak Beri Kajian Pengembangan Potensi ANak Melalui Pembelajaran Hati

Dosen Psikologi Islam IAIN Pontianak Beri Kajian Pengembangan Potensi ANak Melalui Pembelajaran Hati

PONTIANAK – fuad.iainptk.ac.id,Kajian Hikmah serta arisan dan bincang-bincang dengan mengusung tema kajian “Mengembangkan Potensi Anak Melalui Pembelajaran Hati” di Kediaman Bunda Aisyah Khairunnisa Kebun Percobaan Sungai Kakap/IP2TP Jl. Raya Kakap KM 8,6. Sabtu, 29/2.

Dalam bincang-bincang ini, mengundang seorang Psikolog dan dosen Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Pontianak yaitu Ibu Agus Handini, M. Psi., Psikolog.

Wali murid TKIT Al-Fityan sangat antusias dalam mengikuti kajian ini, dengan tema tersebut wali murid dapat menggali potensi-potensi anak yang pada usia tersebut pula pada anak terdapat perilaku-perilaku yang muncul dan sering kali dianggap tidak wajar oleh orang tua. Oleh karena itu, dalam bincang-bincang kali ini orang tua murid akan mengetahui karakter yang normal atau yang tidak sesuai dengan tahapan pertumbuhan seorang anak.

Selain itu, narasumber Agus Handini memberikan suatu cara bagaimana mengenal potensi melalui pembelajaran hati. Dalam hal ini, mengenal anak melalui pengenalan pada diri orang tua itu sendiri. Selanjutnya narasumber mengajak mengenal diri secara fisik maupun psikologis. Adapun secara fisik setiap orang tua diwajibkan mengenal kondisi fisik yang dimiliki kemudian menemukan persamaan fisik yang ada pada kedua orang tuanya dan menemukan dominansi pada anak sehingga nantinya akan memberikan kontribusi kecenderungan gangguan fisik yang dialami oleh anak tersebut.

Sementara itu, dalam sisi psikologis jika berkinginan mengubah sifat-sifat yang kurang baik dan kurang efektif dalam kehidupan anak. Maka orang tua harus menemukan sifat-sifat itu pada dirinya. Kemudian ibu atau ayah harus mengakui bahwa sifat buruk itu ia miliki. Dalam proses pengakuan maka orang tua senantiasa beristighfar dan meminta maaf kepada Allah SWT dan kemudian mengakui bahwa “Ya Allah aku memiliki sifat buruk ini dan aku tidak menginginkan anakku memiliki sifat ini” dan selanjutnya berbicaralah kepada anak dan katakan bahwa “Sesungguhnya sifat ini ada padamu nak, dan ini adalah apa yang kamu contoh dan kamu lihat dari perilaku Ibu atau Ayahmu.”

Orang tua harus bercerita apa yang dialami ketika sifat buruk itu melekat pada diri orang tuanya apa dampak negatif yang dirasakan selama ini. Sehingga orang tua berharap bahwa anaknya tidak mengalami hal yang sama. Kemudian bersama dengan anak-anak melakukan pembicaraan dan juga beristighfar bersama-sama untuk mengakui ingin mengubah perilaku ataupun sifat-sifat yang buruk tersebut. Proses yang paling penting adalah setiap orang tua mengakui secara jujur bahwa apa yang menjadi permasalahan atau sifat negatif pada anak merupakan salah satu proses dari modelling yang mereka lihat dari Ibu atau Ayahnya.

Pada dasarnya, setiap anak memiliki sifat-sifat yang sama pada orang tuanya dikarenakan faktor modelling yang menjadi pemodelan atau percontohan dari orang tua pada anaknya. Proses modelling pada anak dari orang tua mengakibatkan perilaku, tanpa anak mengetahui sebab dan akibat yang terjadi atas modelling tersebut. Sangat dikhawatirkan jika anak diasuh oleh orang lain, akan memiliki ekspresi emosi atau sisi psikologis yang sama pada pengasuhnya. Dalam hal ini, Agus Handini mengingatkan bahwa perlunya kejujuran dalam mengakui sifat-sifat negatif yang dimiliki oleh orang tua dan kemudian bermunajad kepada Allah SWT dan mengajak pada anak berbicara bahwa sifat negatif tersebut dapat mempersulit keadaan kehidupan di masa mendatang. Hal ini untuk mengantisipasi dan mengurangi perilaku negatif pada diri dapat dimulai dari kedua orang tua yang kemudian dapat dilatih kepada anak-anaknya.

Dalam kajian ini semua wali murid bermuhasabah diri, untuk melakukan pengenalan pada diri secara fisik maupun psikologis sehingga dapat meminimalisir dampak negatif pada fisik maupun dampak psikologis berupa sifat-sifat yang tidak baik, tidak memberikan kontribusi yang optimal pada penyesuaian diri seorang anak.

Bincang-bincang ini ditutup dengan pembacaan quotes yang dilanjutkan dengan pembuatan quotes berupa doa atas perubahan yang diharapkan pada fisik dan perilaku anak.

Editor: Sri Wahyuni

About adminfuad

Check Also

Erick Nugraha Paparkan Tranformasi Kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai Wujud Moderasi dalam Dunia Pendidikan

PONTIANAK – fuad.iainptk.ac.id,Pemimpin merupakan seorang yang dapat mempengaruhi orang lain, dalam mengambil tindakan atau keputusan. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *