Gaya Andrea Hirata Jadi Contoh Penulisan Deskripsi

Program Unggulan Rumah Literasi

PONTIANAK – fuad.iainptk.ac.id, Peserta Rumah Literasi pada hari Jumat 25/10/2019 nampak serius mengikuti pelatihan menulis seperti biasanya. Sejak pukul 08.00 hingga 10.30 WIB, mereka telihat duduk berhadap-hadapan. Meski demikian, tak ada sepatah kata pun yang terucap dari masing-masing peserta, kecuali suara keyboard laptop dan seretan pulpen di kertas yang terdengar.

Tema pelatihan kali ini adalah menulis deskriptif. Mereka diminta untuk mendeskripsikan suatu objek yang ada di hadapannya. Objek itu tidak lain adalah temannya sendiri yang langsung dilakukan saat itu juga.

Dalam pengarahannya, Elmansyah, pembimbing menjelaskan kepada peserta tentang model penulisan deskriptif. Menurut Elmansyah, penulisan deskriptif adalah penulisan dengan cara menggambarkan suatu objek atau peristiwa tertentu agar para pembaca dapat memahami dan merasakan betul apa yang terjadi atau dapat membuat sketsa tentang objek yang telah dideskripsikan.

“Menulis deskriptif itu seperti orang yang sedang melukis. Objeknya ada di hadapan, lalu diwujudkan dalam bentuk gambar di atas kertas atau kanvas. Bagi penulis, objek itu dituangkan dalam bentuk kata-kata atau tulisan”.

Agar mudah dipahami oleh peserta, pembimbing memberikan contoh apa yang telah dilakukan oleh para penulis terdahulu. Nama-nama penulis terkenal disebutkan, seperti: Hamka, Arswendo Atmowiloto, Habiburrahman El-Shirazy, Andrea Hirata sampai pada Tere Liye. Untuk lebih jelasnya, Elmansyah meminta peserta membaca tulisan Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi, dalam sub judul Simpai Keramat. Dalam tulisan ini, bagaimana gaya Andrea Hirata mendeskripsikan tentang Arai secara detail dalam bentuk tulisan yang tidak membosankan pembaca. Bumbu-bumbu ilmiah dan jenaka, menjadi daya tarik tersendiri bagi pembacanya.

“Kalo ingin seperti Andrea Hirata, mungkin sulit, tapi bukan juga tidak mungkin. Andrea Hirata memang seorang penulis yang memiliki latar belakang keilmuan eksakta yang tinggi, sehingga ia memasukkan kajian ilmiahnya dalam sebuah novel. Selain itu penguasaan kosa katanya yang lengkap, membuat ia mampu melukiskan suatu objek dengan baik. Bagi peserta, ia adalah contoh yang standar dalam kualifikasi yang tinggi untuk menulis deskriptif”, imbuh Elmansyah.

Dalam kesempatan ini, Irvan Wahyudi dari Program Studi Manajemen Dakwah berhasil menjadi penulis terbaik, dengan menuliskan tentang temannya yang bernama Fawaid Umam. Gaya tulisan Andrea Hirata ditirunya dengan baik, sehingga tulisannya menjadi menarik. Berikut petikan tulisan Irvan:

“…Temanku ini namanya Fawaid Umam, tapi Aku sering memanggilnya Id saja. Dia anak yang baik, tak banyak bicara. Ketika kamu berjumpa, ia selalu tersenyum, menampakkan gigi-giginya yang putih, di balik bibirnya yang agak pucat. Itulah yang membuat senyumnya menawan dan penuh wibawa…”. 

Sumber: teraju.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *